Coz everytime I got near you
All I want to do
Is to hold your hand
To hug you tight
And to whisper softly
I wish to marry you
But it can’t be done
Coz everytime I got near you
All I want to do
Is to hold your hand
To hug you tight
And to whisper softly
I wish to marry you
But it can’t be done
After some time I’ve finally made up my mind
she is the girl and I really want to make her mine
Sudah malam. Namun mata tak mampu terpejam. Larut malam. Namun pikiran masih terkekang. Satu nama mengganggu tidurnya.
Nama itu mengirimkan pesan di siang bolong. “Siapa yang kau maksud tadi pagi?” tulisnya. Tak ia hiraukan pesan itu. Ia tahu nama itu menanyakan status yang ia tulis di salah satu media sosial. Satu jam kemudian ponselnya kembali berbunyi. “Kamu sombong sekarang.”
Bukannya ia tak ingin membalas. Sibuk pun tidak. Ia hanya tak tahu apa yang harus ditulis.
“Aku rindu kamu”?
“Aku ingin kamu”?
“Aku cinta kamu”?
I’m searching everywhere to find her again
to tell her I love her
and I’m sorry ’bout the things I’ve done
Tak ada satu pun yang menggambarkan kegundahan hatinya. Empat ratus delapan puluh dua jam dua puluh dua menit dan dua puluh dua detik terakhir kali ia berbincang dengannya. Iya, dia hitung secara cermat. Tak pernah ia seperti itu. Sentimental. Akibat dia.
Diraihnya ponsel pintarnya dan mulailah ia membalas pesan yang tertunda.
“Kamu.”
“Iya, kamu yang kusebut tadi pagi.”
“Dan bukannya aku sombong. Melainkan aku takut.”
“Aku takut suka kamu.”
“Dan kamu tak membalas rasa itu. Karena kamu dengannya.”
I find her standing in front of the church
the only place in town where I didn’t search
She looks so happy in her weddingdress
but she’s crying while she’s saying this
I don’t want to lose you
I don’t want to loose you
Boy I’ve missed your kisses all the time but this is
twentyfive minutes too late
Though you travelled so far boy I’m sorry your are
twentyfive minutes too late
Berikut adalah ucapan-ucapan (ngawur) yang sering terdengar selama bulan Ramadhan:
- Saya lagi puasa mas, nggak mungkin bohong;
- Ngapain saya nipu, kan lagi puasa;
- Jangan mainin anggaran dulu deh, nggak enak bulan puasa;
- Nggak boleh ngomong jorok ah, lagi Ramadhan nih;
- Jangan nonton yang begituan deh, lho wong bulan ramadhan;
- Gue nggak mau nyombongin diri, nggak boleh lagi bulan Ramadhan;
- Lagi puasa, tahan emosi bro.
Berikut adalah tanggapan saya:
EMANG KALAU BUKAN BULAN RAMADHAN ALIAS BULAN PUASA, ANDA DIPERBOLEHKAN UNTUK BERBOHONG, MENIPU, KORUPSI, NGOMONG JOROK, NONTON “YANG BEGITUAN”, NYOMBONGIN DIRI DAN EMOSI ??!!!!
Plis deh, bukan gitu cara menghormati bulan Ramadhan. That’s obviously the wrong treatment. Let’s use a simple logic. AND IT REALLY IS VERY SIMPLE.
Katakanlah bulan Ramadhan adalah seorang wanita/pria (tergantung preferensi seksual anda) yang sedang anda dekati. You’re heavily in love with this person. Anda akan berbuat apa saja untuknya termasuk tidak berbohong, menipu, korupsi, dan lain-lain. Tapi HANYA di depannya.
Katakanlah si gebetan ini bernama Ramadhan(i) dan dia mempunyai sebuah keluarga besar, say, I don’t know, a family of twelve. Dan misalnya saja dalam keluarga itu kebetulan ada yang bernama Rajab, Sya’ban, Robiul Awal, Robiul Akhir, Muharam, dan Syawal.
Di hadapan Ramadhan(i), anda bersikap sangat terpuji. Tapi anda berbohong pada Rajab.
Di hadapan Ramadhan(i), anda bersikap mulia. Tapi anda menipu Syawal.
Di hadapan Ramadhan(i), anda sangat menghormatinya. Tapi anda memaki Rabiul Awal.
Di hadapan Ramadhan(i), anda memujinya. Tapi anda menyombongkan diri pada Muharam.
Menurut anda, apa yang akan terjadi pada anda jika Ramadhan(i) mengetahui perbuatan anda pada keluarganya?
So, kalau mau hormati bulan Ramadhan, HORMATI JUGA BULAN YANG LAIN DONG.
Terimakasih.
Salam hormat.
Yoga.
1. TV ngomongin menkeu, orang kantor ngomongin menkeu, orang di jalan pada omongin menkeu, status fb orang n twitter pun begitu. ada public sphere yang bebas menkeu nggak sih? Teori media jarum suntik masih amat relevan kayaknya
2. Di Indonesia, jam tangan hanya aksesori, mungkin penanda status sosial. Memakai jam tangan bukan berarti menghargai waktu.
3. Orang amerika punya high-tec, orang sunda punya lo-tec
4. Thomas dan Uber Cup: Indonesia (yang katanya berTuhan) kalah dari China (yang katanya tak berTuhan). Artinya…
5. Pada waktu shalat Maghrib, umat Islam di Indonesia berkiblat bukan ke Mekkah, tapi ke DKI Jakarta dan sekitarnya. Karena pada waktu Maghrib, menurut para stasiun televisi swasta nasional, masyarakat Indonesia “Menantikan Adzan Maghrib Untuk wilayah DKI Jakarta Dan Sekitarnya”
Aku adalah dia.
Dia jatuh cinta pada nona.
Aku jatuh cinta pada nona.
Nonanya tak ingin terikat.
Nonaku tak ingin terikat.
Dia merasa nona adalah yang ditakdirkan
Aku merasa nona adalah yang ditakdirkan.
Nonanya menyenangkan.
Nonaku menyenangkan.
Dia merasa bisa melakukan apa saja bersamanya.
Aku merasa bisa melakukan apa saja bersamanya.
Dia merasa hidupnya hancur kalau tidak bersama nona.
Aku merasa hidupku hancur kalau tidak bersama nona.
Nonanya bisa bermanja tanpa status.
Nonaku bisa bermanja tanpa status.
Dia merasa yang sudah dilakukan nona lebih dari teman.
Aku merasa yang sudah dilakukan nona lebih dari teman.
Nonanya pergi.
Nonaku belum pergi.
Dia bertemu nona lain.
Aku masih mengharap nonaku.
Aku bukan dia.
Heey.. Amiin.. Makasih doanya..
1. What doesn’t kill you, MUST BE KILLED !!!
2. Can you counterfeit love?
3. Satu hal yang lebih baik dari kawin muda… mati muda.
4. Kalau tulisan-tulisan Soe Hok Gie 40 tahun lalu masih relevan dengan keadaan sekarang, apakah karena Gie yang futuristis, atau bangsa ini yang statis?
5. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Namun, apakah susu setitik bisa menyelamatkan nila sebelanga?
Mei termenung di balik jendela. Rumah ini terasa aneh baginya. Tujuh kamar mandi dan hanya satu kamar tidur. Itu hasil pengamatannya dalam waktu sejenak.
Rumah kecil di Hutan Yaroga itu memang bukan rumahnya. Mei menemukannya ketika tak sengaja ia terperosok akibat terlalu bersemangat mengejar kelinci putih. Seperti Alice saja, pikir Mei. Dan kini ia menunggu kedatangan si pemilik rumah. Mungkinkah ia seorang laki-laki seumuran ayahnya? Bagaimana dengan keluarganya? Apakah laki-laki itu memiliki anak perempuan seumuran dirinya? Tentunya mengasyikkan jika bisa bermain dengannya. Lompat tali, bekel, petak umpat, dan beragam permainan aktif lain yang hampir hilang ditelan jaman sudah dirancang dalam otaknya.
Menunggu, menunggu, dan menunggu. Sangat membosankan. Lebih baik aku melihat-lihat lagi, pikir Mei. Ketika di luar, Mei takjub melihat rumah yang berwarna-warni, kebanyakan warna terang namun juga tersempil warna gelap. Namun Mei sempat kesulitan untuk memasuki rumah ini. Untuk rumah yang terlihat besar, pintunya sangat kecil. Begitu pula jendelanya. Namun anehnya tak ada satupun yang terkunci.
Di dalamnya ada satu kamar tidur dan 7 kamar mandi. Di kamar tidur itu ada 7 tempat tidur, masing-masing dengan keunikannya sendiri walau semuanya mini. Tempat tidur yang pertama terhalang oleh pintu, seperti mengumpat, tak ingin terlihat, menyendiri di pojok ruangan. Tempat tidur tetangganya terlihat lebih ramah dengan sprei rapih berwarna putih. Di seberangnya sebuah tempat tidur yang terlihat ramai dengan tumpukan dvd bajakan dan sepasang stik Playstation tercecer di atasnya. Hampir sama dengan tempat tidur sebelahnya, namun yang tercecer adalah buku-buku sosial, filsafat, ekonomi, agama, bahkan buku anak-anak. Namun tak ada buku psikologi motivasi. Masih dalam deretan yang sama, sebuah tempat tidur yang dihiasi oleh rak berisi wayang, botol dengan miniatur kapal di dalamnya, miniatur pesawat terbang, dan pemutar piring hitam. Dua tempat tidur lagi yang berada di deret “si tersembunyi” dan “si ramah” terlihat kontras. Yang satu berseprai merah membara sementara satu lagi berseprai hitam dengan guratan “Dead Man Breathing” di sisi kepala tempat tidur.
Belum sempat Mei mengambil kesimpulan mengenai penghuni rumah itu, suara gemuruh petir saling sambut mengisi keheningan hutan Yaroga. Tampaknya hujan akan turun, pikir Mei. Dan tampaknya Mei akan terperangkap di rumah itu hingga hujan mereda. Rasa kantuk perlahan menyambangi Mei. Ia pun terlelap di tempat tidur “si ramah”.
****
“Bangunkan dia. Orangtuanya mungkin sedang mencarinya”, ujar si hitam.
“Tidak. Dia terlihat damai dalam tidurnya. Sudah lama tak kulihat yang seperti ini. Tidak juga pernah aku rasakan bahkan dalam setahun ini. Rindu aku akan kedamaian ini”, ucap si putih.
“Ah, kau dan sikap melankolikmu. Itu yang menyebabkan dia pergi. Andai saja kau tak sebodoh itu, maka dia masih bersama kita”, protes si hitam.
“Itu berarti dia belum mengerti kita. Belum siap menerima kita. There’s an old saying, if you love someone, set them free”, kata si putih.
“Well, there’s a new saying, if you love someone set them free, if they comeback set them on fire”, sergah si hitam.
Si putih hanya tersenyum miris.
****
“Siapa dia?” tanya Mei. Rupanya sejak tadi Mei sudah terbangun dan mendengar perbincangan si putih dan si hitam.
“Ah, kau sudah terbangun rupanya,” kata si putih. “Nyenyakkah tidurmu, Nak?”
“Tempat tidur ini begitu nyaman. Aku hampir terjerembab dalam alam mimpi,” ucap Mei.
“Dan apa yang membuatmu takut terjerembab dalam mimpi? Bukankah hidup dimulai dengan mimpi?” tanya si putih.
“Dan diakhiri dengan kekecewaan,” potong si hitam.
“But everything in between is worthwhile,” balas si putih.
****
“Kau belum perkenalkan namamu nak. Siapa kamu dan mengapa kamu disini?” tanya si putih sambil menyeruput susu putih panas. “Oh, maaf. Betapa tidak sopannya kami. Kami sendiri belum memperkenalkan diri. Saya si putih dan ini si hitam,” ujar si putih sambil menunjuk si hitam.
Mei kini berada di ruang tamu. Satu-satunya ruangan selain kamar tidur dan kamar mandi. Ya, satu-satunya ruangan. Ruangan ini seperti dapur, ruang tamu, ruang makan, garasi, dan ruang jemur menjadi satu.
“Namaku Mei. Aku terperosok ketika bermain di hutan Yaroga dan menemukan pondok ini. Maafkan aku yang lancang memasuki rumah kalian tanpa ijin. Namun pintu yang tak terkunci sangat menggodaku.”
“Pintu itu akan terbuka bagi siapa saja yang punya hati tulus untuk menjalin persahabatan,” ucap si putih.
Mei merasa beruntung. Tidur nyenyak di kasur paling nyaman, susu putih paling lezat, dan martabak keju kesukaannya. Tapi pikirannya masih terusik tentang dia.
“Namanya April,” kata si putih seolah membaca pikiran Mei. “Ia berbeda dengan orang lain yang pernah tinggal disini. Kami menyukainya dengan segera.”
“Lalu apa yang terjadi?” tanya Mei.
“Mungkin memang dia petualang yang belum menemukan tempat yang cocok. Suatu saat dia akan kembali,” jawab si putih.
“Teruslah menghibur dirimu,” ejek si hitam.
****
“Sudah lama tidak bermain hujan. Katanya musim panas lebih panjang dan musim hujan tidak lagi membawa berkah,” kata Mei.
“Tak usah pikir panjang, ayo bermain hujan. Sehat dan sakit bagian dari kehidupan, hidup dan mati bagian dari rencana Tuhan untuk menjaga keseimbangan alam,” kata si putih.
“Rencana yang bagus. Sangat bagus. Sayang tak banyak yang ingat pada si Pembuat Rencana,” sindir si hitam.
Ah, aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan, mungkin nanti jika aku dewasa, mungkin nanti jika aku dewasa aku mengerti apa itu dewasa, pikir Mei. Ia melihat si putih sudah di luar bermandikan hujan. Mei menarik si hitam dan dalam sekejap mereka sudah bergabung dengan si putih, menikmati rahmat Tuhan.
****
“Aku harus pulang. Sebentar lagi malam menjelang,” ujar Mei.
“Tak apa, Mei. Kami mengerti. Terimakasih sudah menghibur kami. Sampaikan salam kami pada Juni dan Juli. Katakan kami menunggu mereka. Mereka berhutang kebahagiaan pada kami,” kata si putih.
“Hati-hati Mei. Rindu kami akan mengantarmu. Menjagamu sepanjang jalan,” ucap si hitam.
****
Oh, for God sake
Why should I stay awake
I wanna drown deep in the lake
Cos my heart cannot take
What my mind cannot fake
Feel hollow
Feel sorrow
Feel like in the death row
Feel like I should take a bow
In front of the crow
All in vain
Nothing gained
Cannot stand the pain
Cannot wipe the stain
Crying outloud in the rain
“Can you hear me Lady of the Dark?
Can you hear me sing and bark?
So you can have your fiesta in Noah’s Ark
Eating out flesh and blood and lark
I salute you, I am your perfect mark”
(Saya rasa) Ini adalah notes personal saya yang pertama di ruang publik dan entah mengapa saya ingin membaginya. Mungkin sebagai penebusan saya, mungkin karena hari ini agak emosional, atau mungkin saya hanya ingin berbagi cerita. Entahlah.
***
Saya baru saja membaca sebuah buku karya Billy Crystal, 700 Sundays. Sebuah buku tentang pengalaman Billy kecil dengan ayahnya. Waktu yang dihabiskan Billy dengan ayahnya tidak banyak karena ketika Billy berumur 15 tahun, ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung. Kalau dihitung-hitung, menurut Billy, waktu yang dihabiskan Billy dengan ayahnya sekitar 700 hari Minggu. Ya, hari Minggu. Karena di hari itulah ayah Billy benar-benar menyediakan waktu untuk keluarganya, bermain bersama anak-anaknya. Benar-benar waktu yang berkualitas. Ohya, sebagai informasi, Billy Crystal adalah seorang komedian sukses di Amerika dan beberapa kali memandu Academy Awards.
Dan saya berpikir, kapan ya saya pernah mendapatkan waktu berkualitas bersama Papa? Begitulah saya panggil ayah saya. Papa. Kenapa yang selama ini menjajah pikiran saya hanyalah bagian-bagian buruk saja? That’s not good. If I want to have a good relationship with my future children, than I shall have good relationship with my father. And it started with good memories. Maka saya pun mulai menggali ingatan mengenai waktu berkualitas yang telah papa sediakan buat saya.
Satu yang langsung muncul adalah ketika Papa mengajak saya makan soto ayam di pinggir jalan. Sepertinya waktu itu saya berumur 6-7 tahun. Beliau mengajarkan tata krama makan soto ayam (setidaknya waktu itu, saya pikir itulah tata kramanya). Mulai dari cara duduk, cara memegang sendok dan garpu, hingga cara makan soto itu sendiri. Tuangkan kecap ke mangkuk soto. Peras jeruk nipis sekalian. Ambil sebagian soto dari mangkuk dan pindahkan ke piring nasi. Soto yang masih ada di mangkuk bisa digadoin nantinya. Selang beberapa tahun kemudian saya sempat merubah gaya ini, yaitu dengan mencampur semua nasi ke dalam mangkuk soto, tapi itu tidak berlangsung lama. Thus, mungkin pengalaman itu yang membuat saya merasa lebih nyaman makan di warung pinggir jalan daripada di hotel atau tempat-tempat mewah. Bukan berarti saya tidak merasa nyaman makan di tempat-tempat elit lho.
Ingatan berikutnya yang mampir di otak adalah ketika kami nonton bioskop yang waktu itu tidak semewah sekarang. Usia saya 8 tahun waktu itu (yes, this one I’m sure coz I check the release date of the movie on IMDB, God bless). Kami menonton film Best of the Best yang dibintangi Eric Roberts. Film laga memang selalu menjadi kesukaan Papa. Semua bintang laga yang (sekarang) saya nggak suka adalah bintang laga favoritnya. Van Damme, Sylvester Stallone, Steven Seagal. Oh, Steven Seagal, aktor yang nggak pernah kena pukul di filmnya (atau setidaknya bisa dihitung dengan jari berapa kali Mr. Seagal kena pukul dalam sejarah karir filmnya), benar-benar aktor laga favoritnya. Michael Dudikoff, David Bradley. You see, I grow up watching these unbelievebly horrible actors and I SURVIVE !!! But it’s not the movie that counts, it’s the quality time. Over the years of my childhood, Papa beberapa kali membawa saya menonton film-film action. Bahkan ketika kami di Bandung. Mungkin supaya saya tumbuh menjdai pria jantan. Entahlah. Tapi yang pasti saya tumbuh jadi movie freak. Saya sangat suka menonton film. Saya mengingat semua aktor, semua adegan, bahkan kadang-kadang hingga peran yang dimainkan dan line yang diucapkan si aktor. Otak saya pun menjadi otak yang visual, lebih mudah menerima informasi dari gambar bergerak dibanding membaca. Sekarang sudah berimbang sih antara yang menonton dan membaca.
Mungkin perimbangan itu karena Papa suka membawa saya ke toko buku hampir setiap akhir pekan ketika di Bandung. Well, waktu itu saya membaca komik Dragon Ball, Tiger (apa gituh..), KungFu Kid (Ching Mi itu loh), Donald Bebek , tapi itu kan dihitung buku juga. Untungnya saya tidak membaca Candy Candy. But I watched Salormoon, though.
Ternyata ada juga waktu berkualitas bersama Papa. Dan saya sangat bersyukur untuk itu. Walau saya masih teringat, ketika kecil saya pernah ditampar. Waktu itu kami sedang membicarakan tentang sepakbola dan saya sempat tidak setuju dengan ucapan Papa karena saya yakin dengan ingatan saya. And out of nowhere he slapped me. Ingatan itu membayangi saya bahkan sampai hari ini dan membangun profil ayah yang buruk, an authoritative figure. Yang waktu itu tidak saya pertimbangkan adalah he’s a human being. Mungkin Papa sedang mempunyai hari yang buruk di kantor. Mungkin Papa sedang berselisih dengan seseorang. Mungkin di saat itu dia kehilangan kontrolnya. Atau mungkin juga, memang sayalah yang salah karena mungkin terlalu keras bicara. Dan saya juga tidak memperhitungkan bahwa saya beruntung. Itu hanya sebuah tamparan. Satu kali. Selama SD hingga SMA, saya seringkali mendengar teman-teman saya dipukul dengan lidi, sapu, atau dengan tangan. Dan saya hanya ditampar. Apalagi setahu saya, Eyang, Bapaknya Papa, sering memukul anak-anaknya. So, that’s a great progress.
Saya masih bermasalah dan mungkin akan terus bermasalah dengan sosok Papa sebagai dominant authoritative figure. Tapi sekarang saya coba melihat dari sisi Papa. Setiap orang tua (hendaklah) pastinya ingin yang terbaik bagi anaknya. Begitu juga dengan Papa. Makanya beliau bekerja begitu keras untuk mendapatkan uang. Beliau bekerja di PU (sekarang sudah pensiun) sejak tahun 70-an dengan bekal ijazah SMA. Tahu kan betapa sulitnya naik ke atas berbekal ijazah SMA. Dia kerja begitu keras, suatu ketika saya pernah melihat piagam penghargaan (seperti yang diberikan pada para pahlawan dengan judul misalnya Bintang Mahaputra…) distempel tandatangan presiden berisi tentang penghargaan pada PNS yang tidak pernah bolos seharipun dalam 20 tahun masa kerjanya. Now you all may say that PNS gitu loh, but I do believe in his work ethics. Tahun 1991 beliau mendapat beasiswa untuk kuliah Poltek ITB jurusan Teknik Lingkungan setelah bersaing dalam ujian dengan puluhan kandidat lainnya. Dan beliau bersujud syukur.
Sekarang , alhamdulillah kami hidup tidak kekurangan. Now you all may say that PNS PU gitu loh, but I do believe he’s an honest man. Saya percaya beliau mendapat uang hasil jerih payahnya sendiri. Whatever that come along, is a bonus. Beliau tidak pernah meminta apalagi memeras. Tell you a secret, beliau pernah berhutang pada tetangga untuk memenuhi kebutuhan hidup. Beliau bisa saja meminta kontraktor, atau bahkan memeras, tapi TIDAK. Beliau memilih jalan yang diridhoi Allah.
Kembali ke dominant authoritative figure. Bukankah itu hanya karena beliau ingin yang terbaik untuk anaknya? Maka Papa sudah mengatur sekolah saya dari SD sampai SMA. Bahkan sampai pemilihan antara IPA dan IPS pun diatur. Sejak kecil saya sudah diajar matematika oleh beliau. And he’s very good on that subject. Dan kepandaiannya itu menular. Saya pun jadi pandai matematika. Ketika kebanyakan nilai ujian siswa adalah 6-7. Saya tak pernah kurang dari angka 8. NEM SD untuk matematika saya pun 10. SEPULUH. Akhirnya di SMA pun saya masuk kelas IPA. Walaupun ketika kuliah saya masuk jurusan sosial, tapi matematika saya tetap jago.
***
Saya percaya bahwa setiap orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya. Namun saya juga percaya, bahwa ada satu titik dalam hidup dimana “yang terbaik” itu tidak hanya menjadi milik orang tua tapi juga juga melibatkan si subyek yaitu si anak dalam pengambilan keputusan. Visi “yang terbaik” harus melibatkan semua stakeholder.
***
Sangat mudah untuk untuk menyalahkan seseorang untuk setiap ketidakberuntungan dalam hidup, tapi sangat sulit untuk mensyukuri setiap kebaikan yang sudah terjadi dalam hidup. Alhamdulillah, I’m thankful already for having him in my life. Saya tidak akan menjadi diri saya sekarang, tanpa bimbingannya.
Suatu saat nanti, semoga saya akan menjadi ayah yang baik, ayah yang hebat, tapi itu semua karena saya belajar dari yang terbaik.
Selamat hari lahir, Papa. I Love You and don’t you forget it.
***
Billy Crystal beruntung dapat menghabiskan 700 hari Minggu bersama ayahnya. Tapi saya lebih beruntung, because I have 700 Sundays and then some.